Get me outta here!

Monday, March 23, 2015

KEHIDUPAN POLITIK, SOSIAL, EKONOMI, DAN AGAMA KERAJAAN MATARAM KUNO



BAB I
PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan ini sebenarnya mempunyai dua corak agama yang dianut di dalamnya, yaitu Hindu Siwa dan Buddha Mahayana.
Berdasarkan prasasti Canggal, raja pertama Mataram Kuno adalah Sanna. Kemudian, diteruskan oleh Raja Sanjaya yang berasal dari Dinasti Sanjaya. Setelah Sanjaya, Mataram diperintah oleh Panangkaran. Dari Prasasti Balitung diketahui bahwa Panangkaran bergelar Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Raka i Panangkaran. Hal ini menunjukkan bahwa Rakai Panangkaran berasal dari keluarga Sanjaya dan juga keluarga Syailendra.
Sepeninggal Panangkaran, Mataram Kuno terpecah menjadi dua, Mataram bercorak Hindu dan Mataram bercorak Buddha. Wilayah Mataram-Hindu meliputi Jawa Tengah bagian utara, diperintah oleh Dinasti Sanjaya. Sementara wilayah Mataram- Buddha meliputi Jawa Tengah bagian selatan yang diperintah Dinasti Syailendra.
    Perpecahan di Mataram ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 850, Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya mengadakan perkawinan politik dengan Pramodhawardhani dari keluarga Syailendra. Melalui perkawinan ini, Mataram dapat dipersatukan kembali. Pada masa pemerintahan Pikatan−Pramodhawardani, wilayah Mataram berkembang luas, meliputi Jawa Tengah dan Timur. Pikatan juga berhasil mendirikan Candi Plaosan.
Sepeninggal Pikatan, Mataram diperintah oleh Dyah Balitung (898 −910 M). Setelah Balitung, pemerintahan dipegang berturut−turut oleh Daksa, Tulodong, dan Wawa. Raja Wawa memerintah antara tahun 924−929 M. Ia kemudian digantikan oleh menantunya bernama Mpu Sindok.
    Pada masa pemerintahan Mpu Sindok inilah, pusat pemerintahan Mataram dipindahkan ke Jawa Timur. Hal ini disebabkan semakin besarnya pengaruh Sriwijaya yang diperintah oleh Balaputradewa. Selama abad ke−7 hingga ke−9 terjadi serangan−serangan dari Sriwijaya ke Mataram. Hal ini mengakibatkan Mataram semakin terdesak ke timur. Selain itu, adanya bencana alam berupa letusan Gunung Merapi merupakan salah satu penyebab kehancuran Mataram. Letusan gunung ini diyakini oleh masyarakat Mataram sebagai tanda kehancuran dunia. Oleh karena itu, mereka menganggap letak kerajaan di Jawa Tengah sudah tidak layak dan harus dipindahkan.
Kemunduran kerajaan Mataram Kuno disebabkan karena kedudukan ibukota kerajaan yang semakin lama semakin lemah dan tidak menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh:
1.      Tidak memiliki pelabuhan laut sehingga sulit berhubungan dengan dunia luar
2.      Sering dilanda bencana alam oleh letusan Gunung Merapi
3.      Mendapat ancaman serangan dari kerajaan Sriwijaya
Oleh karena itu pada tahun 929 M ibukota Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur (di bagian hilir Sungai Brantas) oleh Empu Sindok. Pemindahan ibukota ke Jawa Timur ini dianggap sebagai cara yang paling baik. Selain Jawa Timur masih wilayah kekuasaan Mataram Kuno, wilayah ini dianggap lebih strategis. Hal ini mengacu pada letak sungai Brantas yang terkenal subur dan mempunyai akses pelayaran sungai menuju Laut Jawa. Kerajaan itu kemudian dikenal dengan Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur atau Kerajaan Medang Kawulan.
Peninggalan kerajaan Mataram Kuno sangatlah banyak. Diantaranya adalah Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Selain candi, ditemukan pula oleh Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah. Banyak pula prasasti peninggalan kerajaan Mataram Kuno, seperti prasasti Cangga, Kalasan, Kedu (Metyasih), Klurak, Boko.

B.  RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana kehidupan politik di Kerajaan Mataram Kuno?
2.      Bagaimana kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno?
3.      Bagaimana kehidupan ekonomi di Kerajaan Mataram Kuno?
4.      Bagaimana kehidupan agama di Kerajaan Mataram Kuno?

C.  TUJUAN

1.      Memahami kehidupan politik di Kerajaan Mataram Kuno.
2.      Memahami kehidupan sosial di Kerajaan Mataram Kuno.
3.      Memahami kehidupan ekonomi di Kerajaan Mataram Kuno.
4.      Memahami kehidupan agama di Kerajaan Mataram Kuno.


BAB II
PEMBAHASAN


A.  DINASTI SANJAYA

1.      Kehidupan Politik

Berdasarkan prasasti Metyasih, Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) telah memberikan hadiah tanah kepada 5 orang patihnya yang berjasa besar kepada Mataram. Dalam prasasti Metyasih juga disebutkan raja-raja yang memerintah pada masa Dinasti Sanjaya. Raja-raja itu adalah
a.       Rakai Sri Mataram sang Ratu Sanjaya (732-760 M)
Masa Sanjaya berkuasa adalah masa-masa pendirian candi-candi siwa di Gunung Dieng. Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya mangkat kira-kira pertengahan abad ke-8 M. Ia digantikan oleh putranya Rakai Panangkaran.
b.      Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M)
Rakai Panangkaran yang berarti raja mulia yang berhasil mengambangkan potensi wilayahnya. Menurut Prasati Kalasan, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dibangun sebuah candi yang bernama Candi Tara, yang didalamnya tersimpang patung Dewi Tara. Terletak di Desa Kalasan, dan sekarang dikenal dengan nama Candi Kalasan.
c.       Sri Maharaja Rakai Panunggalan (780-800 M)
Rakai Pananggalan yang berarti raja mulia yang peduli terhadap siklus waktu. Beliau berjasa atas sistem kalender Jawa Kuno. Visi dan Misi Rakai Panggalan yaitu selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan. Perwujudan dari visi dan misi tersebut yaitu Catur Guru. Catur Guru tersebut adalah
·         Guru Sudarma, orang tua yang melairkan manusia.
·         Guru Swadaya, Tuhan
·         Guru Surasa, Bapak dan Ibu Guru di sekolah
·         Guru Wisesa, Pemerintah pembuat undang-undang untuk kepentingan bersama
d.      Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M)
Pada masa pemerintahannya, kehidupan dalam dunia militer berkembang dengan pesat.
e.       Sri Maharaja Rakai Garung (820-840 M)
Garung memiliki arti raja mulia yang tahan banting terhadap segala macam rintangan. Demi memakmurkan rakyatnya, Sri Maharaja Rakai Garung bekerja siang hingga malam.
f.       Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856 M)
Dinasti Sanjaya mengalami masa gemilang pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.Pada masa pemerintahannya, pasukan Balaputera Dewa menyerang wilayah kekuasaannya. Namun Rakai Pikatan tetap mempertahankan kedaulatan negerinya dan bahkan pasukan Balaputera Dewa dapat dipukul mundur dan melarikan diri ke Palembang.Pada zaman Rakai Pikatan inilah dibangunnya Candi Prambanan dan Candi Roro Jonggrang.
g.      Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856-882 M)
Prasasti Siwagraha menyebutkan bahwa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi memiliki gelar Sang Prabu Dyah Lokapala.
h.      Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882-899 M)
Sri Maharaja Rakai Watuhumalang memiliki prinsip dalam menjalankan pemerintahannya. Prinsip yang dipegangnya adalah  Tri Parama Arta
i.        Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitong (898-915 M)
Masa pemerintahannya juga menjadi masa keemasan bagi Wangsa Sanjaya. Sang Prabu aktif mengolah cipta karya untuk mengembangkan kemajuan masyarakatnya.
j.        Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M)
Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, Daksottama dipersiapkan untuk menggantikannya sebagai raja Mataram Hindu.
k.      Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M)
Rakai Dyah Tulodhong mengabdikan dirinya kepada masyarakat menggantikan kepemimpinan Rakai Daksottama. Keterangan tersebut termuat dalam Prasasti Poh Galuh yang berangka tahun   809 M. Pada masa pemerintahannya, Dyah Tulodhong sangat memperhatikan kaum brahmana
l.        Sri Maharaja Dyah Wawa ( 921 – 928 M)
Beliau terkenal sebagai raja yang ahli dalam berdiplomasi, sehingga sangat terkenal dalam kancah politik internasional.

2.      Kehidupan Sosial

Kehidupa sosial masyarakat di kerajaan Mataram Kuno sudah teratur. Terlihat dari sikap gotong oyong mereka saat membuat candi bersama. Sikap toleran diantara masyarakat sangat baik. Terbukti dengan adanya dua aliran kepercayaan yang berbeda tetapi mereka tetap bisa bersosialisasi.

3.      Kehidupan Ekonomi

Perekonomian kerajaan Mataram Kuno saat itu bertumpu pada sektor pertanian karena letaknya yang cukup disebut sebagai pedalaman dan memiliki tanah yang subur. Berikutnya, Mataram mulai mengembangkan kehidupan pelayaran, hal ini terjadi pada masa pemerintahan Balitung yang memanfaatkan sungai Bengawan Solo sebagai lalu lintas perdagangan menuju pantai utara Jawa Timur.

4.      Kehidupan Agama

Berdasarkan prasasti Canggal yang menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Siwa), dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Mataram Kuno Wangsa Sanjaya memiliki kepercayaan agama Hindu beraliran Siwa.

B.  DINASTI SYAILENDRA

1.      Kehidupan Politik

Berdasarkan prasasti yang telah ditemukan dapat diketahui raja-raja yang pernah memerintah Dinasti Syailendra, di antaranya:
1)       Bhanu ( 752- 775 M )
Raja banu merupakan raja pertama sekaligus pendiri Wangsa Syailendra.
2)       Wisnu ( 775- 782 M)
Pada masa pemerintahannya, Candi Brobudur mulai di banugun tempatnya 778.
3)       Indra ( 782 -812 M )
Pada masa pemerintahannya, Raja Indra membuat Prasasti Klurak yang berangka tahun 782 M, di daerah Prambanan. Dinasti Syailendra menjalankan politik ekspansi pada masa pemerintahan Raja Indra. Perluasan wilayah ini ditujukan untuk menguasai daerah-daerah di sekitar Selat Malaka. Selanjutnya, yang memperkokoh pengaruh kekuasaan Syailendra terhadap Sriwijaya adalah karena Raja Indra menjalankan perkawinan politik. Raja Indra mengawinkan putranya yang bernama Samarottungga dengan putri Raja Sriwijaya.
4)       Samaratungga ( 812 – 833 M )
Pengganti Raja Indra bernama Samarottungga. Raja Samaratungga berperan menjadi pengatur segala dimensi kehidupan rakyatnya. Sebagai raja Mataram Budha, Samaratungga sangat menghayati nilai agama dan budaya. Pada zaman kekuasaannya dibangun Candi Borobudur. Namun sebelum pembangunan Candi Borobudur selesai, Raja Samarottungga meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Balaputra Dewa yang merupakan anak dari selir.

5)       Pramodhawardhani ( 883 – 856 M )
Pramodhawardhani adalah putri Samaratungga yang dikenal cerdas dan cantik. Beliau bergelar Sri Kaluhunan, yang artinya seorang sekar keratin yang menjadi tumpuan harapan bagi rakyat. Pramodhawardhani kelak menjdi permaisuri raja Rakai Pikatan, Raja Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya.
6)       Balaputera Dewa ( 883 – 850 M )
Balaputera Dewa adalah putera Raja Samaratungga dari ibunya yang bernama Dewi Tara, Puteri raja Sriwijaya. Dari Prasasti Ratu Boko, terjadi perebutan tahta kerajaan oleh Rakai Pikatan yang menjadi suami Pramodhawardhani. Belaputera Dewa merasa berhak mendapatkan tahta tersebut karena beliau merupakan anak laki-laki berdarah Syailendra dan tidak setuju terhadap tahta yang diberikan Rakai Pikatan yang keturunan Sanjaya. Dalam peperangan saudara tersebut Balaputera Dewa mengalami kekalahan dan melatrikan diri ke Palembang.

2.      Kehidupan Sosial

Kehidupan sosial Kerajaan Syailendra tidak diketahui secara pasti. Namun, melalui bukti-bukti peninggalan berupa candi-candi, para ahli menafsirkan bahwa kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Syailendra sudah teratur. Hal ini dilihat melalui cara pembuatan candi yang menggunakan tenaga rakyat secara bergotong-royong. Di samping itu, pembuatan candi ini menunjukkan betapa rakyat taat dan mengkultuskan rajanya. Dengan adanya dua agama yang berjalan, sikap toleransi antar pemeluk agama di masyarakat sangat baik.

3.      Kehidupan Ekonomi

Mata pencaharian pokok masyarakat adalah petani, pedagang, dan pengrajin. Dinasti Syailendra telah menetapkan pajak bagi masyarakat Mataram. Hal ini terbukti dari prasasti Karang tengah yang menyebutkan bahwa Rakryan Patatpa Pu Palar mendirikan bangunan suci dan memberikan tanah perdikan sebagai simbol masyarakat yang patuh membayar pajak.

4.      Kehidupan Agama

Sebagian besar raja-raja Dinasti Syailendra beragama Budha Mahayana. Hal ini menunjukkan bahwa agama Buddha telah masuk di Mataram. Dengan dibangunnya candi-candi Buddha untuk beribadah, maka dapat disimpulkan pula bahwa rakyatnya beragama Buddha Mahayana.

BAB III
PENUTUP


A.  KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
Kerajaan Mataram Kuno terdiri dari dua dinasti dengan aliran agama yang berbeda. Kedua dinasti itu adalah Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra.
1.      Kehidupan politik masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Sanjaya dapat diketahui berdasarkan prasasti Metyasih. Masa kejayaannya terjadi pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rakai Pikatan.
2.      Kehidupan sosial masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Sanjaya sudah teratur dan memiliki rasa toleran yang tinggi terhadap masyarakat yang berlainan agama.
3.      Kehidupan ekonomi masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Sanjaya bertumpu pada sektor pertanian dan telah memanfaatkan Sungai Bengawan Solo di sektor pelayaran.
4.      Kehidupan agama masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Sanjaya berdasarkan prasasti Canggal, diperkirakan masyarakatnya menganut agama Hindu Siwa.
5.      Kehidupan politik masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Syailendra berhubungan dengan raja-raja yang memerintahnya, yaitu Bhanu, Wisnu, Indra, Samaratungga, Pramodhawardhani, dan Balaputra Dewa.
6.      Kehidupan sosial masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Syailendra sudah teratur dan memiliki rasa toleran yang tinggi pula terhadap sesama umat berbeda agama. Diketahui pula masyarakatnya sangat patuh terhadap raja yang memimpinnya.
7.      Kehidupan ekonomi masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Syailendra bertumpu pada bidang pertanian, perdagangan, dan kerajinan. Pada masa Dinasti Syailendra pajak sudah dilaksanakan dengan baik.
8.      Kehidupan agama masyarakat Mataram Kuno pada masa Dinasti Syailendra sebagian besar penduduknya serta raja-rajanya beragama Buddha Mahayana.

B.  SARAN

Dengan keberadaan kerajaan-kerajaan yang terlahir di Indonesia, kita harus bisa mengapresiasi peninggalan-peninggalan yang menjadi sumber ilmu pendidikan dari generasi ke generasi. Upaya pengapresiasian itu sendiri dapat dengan melestarikannya, memeliharanya, dan tidak merusaknya. Jika kita dapat berpartisipasi dalam upaya tersebut, berarti kita mengangkat derajat dan jati diri bangsa. Dengan begitu kita dapat menanamkan rasa nasionalisme terhadap negara Indonesia.


http://pakjokosaputro.blogspot.com/2013/09/aspek-aspek-politik-sosial-ekonomi-dan_4.html
http://annisamisa.blogspot.com/2012/11/kerajaan-mataram-kuno.html
http://mataramkunojawabarat.blogspot.com/
http://rifkiberbagiilmu.blogspot.com/2013/05/aspek-kehidupan-kerajaan-hindu-budha.html
http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/kerajaan-mataram-kuno.html
http://tulastulispratama.blogspot.com/2012/08/kerajaan-mataram-hindu-budha.html
http://www.belajarpraktis.com/2013/04/14/kerajaan-mataram-kuno.html
http://dheny1922.wordpress.com/2012/03/19/kerajaan-mataram-kuno/
http://books.google.co.id/books?id=ijhk6SdB1hsC&pg=PT21&lpg=PT21&dq=kehidupan+ekonomi+SYAILENDRA&source=bl&ots=XArMbmGPV3&sig=lUT42De6BFH3j97W7StbC_ZlkvA&hl=en&sa=X&ei=wQP1UsCKCYWLrQe_toD4Cg&redir_esc=y#v=onepage&q=kehidupan%20ekonomi%20SYAILENDRA&f=false
http://historyendamoia.wordpress.com/2011/10/30/dinasty-sailendra-2/
http://sugionosejarah.wordpress.com/2011/10/03/kerajaan-mataram-hindu/
http://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Sailendra
http://herydotus.wordpress.com/2011/08/06/kerajaan-mataram-kuno-masa-dinasti-syailendra/
http://catatan-pril.blogspot.com/2012/03/karakteristik-kehidupan-sosial-dan.html
http://mynameis8.wordpress.com/2013/06/28/dinasti-syailendra/
http://budisma.web.id/mataram-kuno-dinasti-sanjaya-dan-dinasti-syailendra/
http://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Sanjaya
http://sunandarak.blogspot.com/2012/08/kerajaan-majapahit-kuno-masa-dinasti.html
http://sejarahwew.blogspot.com/2012/11/mataram-dinasty-sanjaya.html

1 comment: