Get me outta here!

Saturday, August 23, 2014

ZAMAN PALAEOLITHIKUM DAN MESOLITHIKUM



A.    ZAMAN PALAEOLITHIKUM
Zaman palaeolithikum (zaman batu tua) berlangsung pada zaman pleistosen akhir selama sekira 600.000 tahun. Juga bertepatan pada zaman neozoikum terutama pada akhir zaman tresier dan awal zaman kuarter. Pada zaman ini manusia sudah menggunakan perkakas yang bentuknya sangat sederhana dan primitif. Peralatan yang digunakan berasal dari batu dan tulang. Peralatan tersebut sebagian besar digunakan sebagai alat untuk mencari makanan dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

1.      Ciri-ciri kehidupan masyarakat di zaman palaeolithikum
§  Alat perburuan masih kasar
§  Hidup berburu dan meramu. Beberapa disertai menangkap ikan (food gathering)
§  Hidup berkelompok antara 3 - 10 orang
§  Telah ditemukan api
§  Hidup nomaden (berpindah-pindah)

2.      Hasil kebudayaan
a.       Kebudayaan Pacitan
Pada tahun 1935, von Koenigswald menemukan alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan, Jawa Timur. Kapak genggam itu berbentuk kapak tetapi tidak bertangkai. Bentuknya masih kasar dan bentuk ujungnya agak runcing, tergantung kegunaannya. Kapak genggam ini juga disebut kapak perimbas. Kapak ini digunakan untuk menusuk binatang,menguliti binatang, memotong kayu, memecahkan tulang binatang buruan, dan menggali tanah saat mencari umbi-umbian. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi dari batu sampai salah satu sisinya menajam dan sisi lainnya apa adanya sebagai tempat menggenggam.Selain kapak perimbas, di Pacitan juga ditemukan chopper sebagai alat penetak dan beberapa alat-alat serpih.
Pada awal penemuannya semua kapak genggam ditemukan di permukaan bumi, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti berasal dari lapisan mana. Berdasarkan penelitian yang intensif yang dilakukan sejak awal tahun 1990, dan diperkuat dengan adanya penemuan terbaru tahun 2000 melalui hasil ekskavasi yang dilakukan oleh tim peneliti Indonesia-Perancis diwilayah Pegunungan Seribu/Sewu maka dapat dipastikan bahwa kapak genggam/Chopper dipergunakan oleh manusia jenis Homo Erectus. Daerah penemuan kapak perimbas/kapak genggam selain di Punung (Pacitan) Jawa Timur juga ditemukan di daerah-daerah lain yaitu seperti Jampang Kulon, Parigi (Jawa Timur), Tambang Sawah, Lahat, dan KaliAnda (Sumatera), Awangbangkal (Kalimantan), Cabenge (Sulawesi), Sembiran dan Terunyan (Bali).







b.      Kebudayaan Ngandong
http://2.bp.blogspot.com/-cbKBYh9-Vpc/UVRJPCC5VII/AAAAAAAANK8/-kvan1KDlh4/s1600/Alat-alat+dari+Tulang+dan.pngKebudayaan Ngandong berkembang di daerah Ngandong dan juga Sidorejo,dekat Ngawi. Di daerah ini banyak ditemukan alat-alat dari batu dan juga dari tulang. Alat-alat dari tulang tersebut berasal dari tulang binatang dan tanduk rusa yang kemungkinan digunakan sebagai alat penusuk, pengorek, dan mata tombak.. Selain itu juga ditemukan tombak yang bergerigi. Alat yang terbuat dari batu bentuknya indah seperti kalsedon disebut flakke. Flakke adalah alat-alat serpih terbuat dari pecahan-pecahan batu kecil, digunakan sebagai alat penusuk, pemotong daging, dan pisau. Kebudayaan Ngandong juga didukung oleh penemuan lukisan pada dinding goa seperti lukisan tapak tangan berwarna merah dan babi hutan ditemukan di Goa Leang Pattae (Sulawesi Selatan)
http://1.bp.blogspot.com/-08O4_lav0xg/UVRIPy5r_cI/AAAAAAAANK0/mjyqHP3Rva4/s1600/Alat-alat+serpih..pnghttp://3.bp.blogspot.com/-CuzmN5qIw_s/UbZ5v-0u2LI/AAAAAAAAAKk/LwGkUoZbzxM/s1600/goa_uhalie2.jpg
Berikut merupakan peta persebaran peninggalan zaman palaeolithikum
http://web.unair.ac.id/admin/file/f_33817_1111.gif

3.      Teknik pembuatan peralatan batu pada zaman palaeolithikum
a.       Teknik Pemangkasan, yaitu teknologi yang dilakukan dengan cara dimana batu yang akan dibuat ditempatkan pada paron (landasan untuk menempa) atau dipegang, kemudian permukaan batu yang dikehendaki dipangkas dengan martil batu untuk memperoleh bentuk tajaman dan pegangan. Teknologi ini nantinya menghasilkan alat-alat batu seperti kapak genggam, kapak perimbas, dan kapak penetak baik yang berasal dari Kebudayaan Pacitan maupun Kebudayaan Ngandong. Alat-alat batu tersebut dibuat dari jenis batuan tufa, gamping kersik, dan batuan endap.
b.      Teknik Pembenturan, yaitu teknologi yang dilakukan dengan cara membenturkan batu dengan batu sehingga menghasilkan pecahan-pecahan batu. Pecahan-pecahan batu tersebut kemudian dikerjakan lebih lanjut dengan menggunakan dua jenis teknologi, yaitu:
§  Teknik Clacton, yaitu membuat alat-alat batu untuk menghasilkan dataran pukul lebar dan kerucut pukul tebal. Teknologi ini digunakan untuk membuat kapak perimbas dan alat-alat serpih terutama dari Kebudayaan Ngandong. Hasil dari teknik ini banyak ditemikan di Sangiran.
§  Teknik Levallois, yaitu membuat alat-alat batu unutk menghasilkan dataran pukul untuk berbidang-bidang. Teknologi ini digunakan untuk membuat kapak perimbas dan alat-alat serpih terutama dari Kebudayaan Pacitan.

4.      Manusia Purba yang hidup di Zaman Palaeolithikum
a.       Pithecanthropus Erectus/ Homo Erectus
b.      Homo Wajakensis dan Homo Soloensis


B.     ZAMAN MESOLITHIKUM
Zaman Mesolithikum (zaman batu tengah) dimulai pada akhir zaman es sekira 10.000 tahun yang lalu. Zaman ini disebut juga zaman “mengumpulka makanan (food gathering) tingkat lanjut”. Para ahli memperkirakan manusia yang hidup pada zaman ini adalah bangsa Melanesoide yang merupakan nenek moyang orang Papua, Semarang, Aeta, Sakai dan Aborigin. Kebudayaan mesolithikum ini banyak ditemukan bekas-bekasnya di Sumatra, Jawa , Kalimantan, Sulawesi dan di Flores.

1.      Ciri-ciri kehidupan masyarakat di zaman mesolithikum
§  Masih nomaden tapi sebagian sudah ada yang menetap dan masih melakukan food gathering (mengumpulkan makanan)
§  Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni masih merupakan alat-alat batu kasar.
§  Ditemukannya bukit-bukit kerang di pinggir pantai yang disebut Kjoken Mondinger (sampah dapur)
§  Alat-alat zaman mesolithikum antara lain: Kapak genggam (Pebble), Kapak pendek (hache Courte) Pipisan (batu-batu penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah.
§  Alat-alat diatas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Flores.
§  Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua Lawa Sampung, Jawa Timur yang disebut Abris Sous Roche antara lain: Flakes (Alat serpih),ujung mata panah, pipisan, kapak persegi dan alat-alat dari tulang.




2.      Hasil Kebudayaan
a.       http://2.bp.blogspot.com/-RIu25YSHOVw/TtO_uP-IFKI/AAAAAAAAAl0/sThMOzLWSAg/s1600/kjokkenmoddinger.jpgKjokkenmoddinger
Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa  Denmark (kjokken= dapur, modding:sampah)yang berarti sampah dapur.Kjokkenmoddinger ditemukan di sepanjang pantai-pantai Sumatra timur laut, di antara Langsa, di Aceh dan Medan.
Kjokkenmoddinger merupakan timbunan atau tumpukan fosil kulit kerang dan siput yang menggunung. Para ahli menduga bahwa manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap di tepi-tepi pantai dalam waktu lama. Fakta ini terlihat dari tinggi kjokkenmoddinger yang mencapai tujuh meter.
http://1.bp.blogspot.com/-YaY0dcDkGxU/TtPAujERsVI/AAAAAAAAAmA/GR4jaA-HbJc/s1600/pebble%2Bkapak%2Bgenggam%2Bsumatera.pngTahun 1925, Dr. P.V. Van Stein Callenfels melakukan penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnyamenemukan kapak genggam.Kapak genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble/kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu dipulau Sumatra.Bahan-bahan untuk membuat kapak tersebut berasal batu kali yang dipecah-pecah.
Selain pebble yang diketemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan sejenis kapak tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan hachecourt/kapak pendek.
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQvGxElOwtL_2iDavQksX5G3N2m0UWFgqEXNRe2n25kPj58Wb8kSelain kapak-kapak yang ditemukan dalam bukit kerang, juga ditemukan pipisan (batu-batu penggiling beserta landasannya). Batu pipisan selain dipergunakan untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah. Bahan cat merah berasal dari tanah merah. Cat merah diperkirakan digunakan untuk keperluan religius dan untuk ilmu sihir.

b.      Abris Sous Roche
Abris sous roche adalah goa menyerupai ceruk batu karang yang digunakan manusia sebagai tempat tinggal. Penelitian mengenai kebudayaan Abris sous roche ini juga dilakukan oleh van Stein Callenfels pada tahun 1928-1931 di Goa Lawu dekat Sampung, Ponorogo (Madiun). Alat-alat yang ditemukan lebih banyak terbuat dari tulang sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture. Di daerah Besuki (Jawa Timur), van Heekeren juga menemukan kapak Sumatera dan kapak pendek. Abris sous roche juga ditemukan pada daerah Timor dan Rote oleh Alfred Buhler yang menemukan flakes culture dari kalsedon bertangkai dan hal ini diduga merupakan peninggalan bangsa Papua Melanesoide. Hasil kebudayaan Abris sous roche juga ditemukan di Lamancong (Sulawesi Selatan) yang biasa disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan Toala ditemukan pada suatu goa yang disebut Goa Leang PattaE dan inti dari kebudayaan ini adalah flakes dan pebble. Selain Toala, para ahli juga menemukan kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Bandung di Indonesia. Bacson-Hoabinh diperkirakan merupakan pusat budaya prasejarah Indonesia dan terdiri dari dua macam kebudayaan, yaitu kebudayaan pebble (alat-alat tulang yang datang dari jalan barat) dan kebudayaan flakes (datang melalui jalan timur).
1)      Sampung Bone Culture
Berdasarkan alat-alat kehidupan yang ditemukan di goa lawa di Sampung (daerah Ponorogo - Madiun Jawa Timur) tahun 1928 - 1931, ditemukan alat-alat dari batu seperti ujung panah dan flakes, kapak yang sudah diasah, alat dari tulang, tanduk rusa, dan juga alat-alat dari perunggu dan besi. Oleh para arkeolog bagian terbesar dari alat-alat yang ditemukan itu adalah tulang, sehingga disebut sebagai Sampung Bone Culture.
2)      Toala
Kebudayaan Toala dan yang serumpun dengan itu disebut juga kebudayaan flake dan blade. Alat-alatnya terbuat dari batu-batu yang menyerupai batu api dari eropa, seperti chalcedon, jaspis, obsidian dan kapur. Perlakuan terhadap orang yang meninggal dikuburkan didalam gua dan bila tulang belulangnya telah mengering akan diberikan kepada keluarganya sebagai kenang-kenangan. Biasanya kaum perempuan akan menjadikan tulang belulang tersebut sebagai kalung. Selain itu, didalam gua terdapat lukisan mengenai perburuan babi dan juga rentangan lima jari yang dilumuri cat merah yang disebut dengan “silhoutte”. Arti warna merah tanda berkabung. Kebudayaan ini ditemukan di Jawa (Bandung, Besuki, dan Tuban), Sumatera (danau Kerinci dan Jambi), Nusa Tenggara di pulau Flores dan Timor.
3)      Bacson-Hoabinh
Kebudayaan ini ditemukan dalam gua-gua dan dalam bukit-bukit kerang di Indo-China, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur. Alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu kali, seperti bahewa batu giling. Pada kebudayaan ini perhatian terhadap orang meninggal dikubur di gua dan juga di bukit-bukit kerang. Beberapa mayatnya diposisikan dengan berjongkok dan diberi cat warna merah. Pemberian cat warna merah bertujuan agar dapat mengembalikan hayat kepada mereka yang masih hidup. Di Indonesia, kebudayaan ini ditemukan di bukit-bukit kerang. Hal seperti ini banyak ditemukan dari Medan sampai ke pedalaman Aceh.












peta persebaran peninggalan zaman mesolithikum
Sumber :
KEMENDIKBUD.2013.Sejarah Indonesia. Jakarta:Politeknik Negeri Media Kreatif
Rahata, Ringo dan Mulyadi.2013.Sejarah Indonesia.Klaten:Intan Pariwara

0 comments:

Post a Comment